Ekonurdin is local figure that modestly which want easy and agreeable learning,via knowledge paradigm "Nurun Ala Nurin"

SELAMAT DATANG

You can move up at Blog this, one that intent give information access what marks sense deep sharpen and mother life, and as problem solving's media in look for ideal spirit


Anda dapat nongol di Blog ini, yang bertujuan memberikan akses informasi apa adanya dalam mengasah dan mengasuh hidup, serta sebagai media problem solving dalam mencari jati diri yang ideal.


TENTANG SAYA

Foto saya
Sengkang, Sulawesi Selatan, Indonesia
Nurdin Blogger Wajo, Guru SMA 7 Wajo, Admin Quipper School Indonesia, Promotor STIFIn Berlisensi.

FOTO ICT

FOTO ICT
http://ekonurdin.blogspot.com

SUASANA UPACARA BENDERA

SUASANA UPACARA BENDERA

FOTO LOKASI

FOTO LOKASI
LOKASI SMAN 3 SENGKNG, TAMPAK LAB.BAHASA PADA DATARAN 4

LOKASI SEKOLAH JALUR DUA

LOKASI SEKOLAH JALUR DUA
LOKASI SMAN 3 SENGKANG,JALUR DUA

FOTO PARA PEMBINA

FOTO PARA PEMBINA
PEMBINA SMAN 3 SENGKANG UNGGULAN KAB.WAJO

FOTO SISWA ICT

FOTO SISWA ICT
Kelas X Akselerasi dalam suasana belajar Ekonomi dengan metode cooperatif learning berbasis ICT

FOTO PENGURUS KOPERASI SISWA

FOTO PENGURUS KOPERASI SISWA
FOTO BARENG PENGURUS KOPERASI SISWA PERIODE 2010-2011

RAPAT KERJA

RAPAT KERJA
RAPAT KERJA KOPERASI SISWA PERIODE 2010-2011

KNOW ABOUT BUSSINES

KNOW ABOUT BUSSINES
Suasana simulasi Know About Bussines (KAB)

Senin, 04 Januari 2010

EQUILIBRIUM OTAK DENGAN HATI

Seimbangkan Otak dengan Hati

Seimbangkan Otak dengan Hati

Kunci kesuksesan adalah mampu menyeimbangkan kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional.

eski tak dapat menikmati liburan akhir pekan karena harus ikut pelatihan selama tiga hari, Qurrata Ayuni, 23 tahun, merasa pengorbanan itu terbayarkan. Pelatihan kecerdasan emosional (emotional quotient) yang diperintahkan oleh atasannya itu benar-benar bermanfaat.

Ayu-begitu peneliti di Mahkamah Konstitusi itu kerap disapa- mengaku pelatihan tersebut mengubah dirinya. Setelah mengikuti pelatihan itu, sikapnya terhadap orang lain menjadi lebih baik, lebih berperasaan (empati), dan berpikir positif. "Pelatihan ini membantu saya berefleksi," kata pegawai negeri sipil ini.Bagi Ayu, kecerdasan intelektual (intelligence quotient) bukan satu-satunya faktor dalam penunjang kariernya. Padahal ia terbilang pegawai yang memiliki kecerdasan intelektual tinggi. Maklum, sewaktu mengenyam pendidikan di Fakultas Huktim-Universitas Indonesia enam tahun lalu, Ayu adalah mahasiswa berprestasi.

"Kepribadian seseorang juga sangat penting," ujar Ayu. Apalagi di tempatnya bekerja sekarang, dia kerap menghadapi sengketa antarpihak. Seperti sengketa jumlah suara dalam pemilihan Umum lalu, pemilihan kepala daerah, dan kasus pengujian undang-undang yang beririsan dengan politik.Sebagai peneliti, Ayu dituntut tidak sekadar menguasai ilmu hukum. "Menghadapi mereka yang berkasus harus memiliki sikap yang tepat dan bijaksana," katanya.

Tak mengherankan kalau Daniel Goleman, penulis buku Emotional Intelligence (1994), beranggapan bahwa kecerdasan emosional (EQ) lebih dominan dalam menentukan keberhasilan seseorang, yakni 80 persen. Sedangkan kecerdasan intelektual (IQ) hanya berkontribusi 20 persen.Kecerdasan intelektual, menurut Goleman, hanya mengangkat fungsi pikiran, sedangkan EQ mengangkat fungsi perasaan. "Tapi pendapat Goleman ini dibantah oleh Diding Supendi dari Lembaga Konsultasi Psikologi Psychodiarra.

Menurut Diding, pendapat itu tidak sepenuhnya benar."Tidak bisa parsial begitu saja," katanya. Kesuksesan seseorang ditentukan oleh keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan emosional. Keduanya, Diding menambahkan, merupakan satu sistem.Kecerdasan emosi bersumber dalam otak kanan seseorang, sedangkan otak kirinya merupakan sumber kecerdasan intelektual. Kesuksesan seseorang, kata Diding, ditentukan oleh otak kecil, yang memiliki saluran menusuk ke hati. "Di hati inilah keseimbangan diatur," ujarnya.

Berdasarkan pelatihannya, Ayu menemukan bahwa orang yang ber-EQ tinggi berupaya menciptakan keseimbangan dalam dirinya, yaitu antara otak danhati. Orang, kata dia, dapat mengusahakan kebahagiaan dari dalam dirinya sendiri dan bisa mengubah sesuatu yang buruk menjadi sesuatu yang positif dan bermanfaat.Menurut Diding, melatih kecerdasan emosi dapat dilakukan melalui beberapa metode, salah satunya dengan pernapasan. Bisa dengan yoga atau bela diri pemapasan. Tujuannya adalah menumbuhkan energi positif, yaitu senantiasa mengarahkan kekurangan diri ke ha) positif, misalkan percaya diri dan berpikir positif.

Kecerdasan emosi seseorang juga dipengaruhi oleh faktor eksternal. Bisa keluarga atau masyarakat. Menurut Iswatul Khoiriyah dari Icon Work Human Resources and Management Consultant, berbeda dengan kecerdasan intelektual yang dibentuk sejak lahir, kecerdasan emosi banyak dibentuk saat tumbuh dewasa-kecuali faktor temperamen, yang dibentuk sejak lahir.Seseorang yang merasa memiliki kecerdasan emosi rendah bisa melatihnya secara mandiri. "Tapi tetap tidak bisa instan," ujar Iswatul. Kecerdasan emosi dapat dirangsang melalui beberapa pelatihan, seperti pelatihan kompetensi diri dan soft skill.Seseorang memiliki kemampuan emosi jika mumpuni dalam hal kepemimpinan, negosiasi, dan komunikasi.

Entitas terkaitApalagi|Ayu|Daniel|Diding|EQ|Fakultas|Goleman|Hati|Kecerdasan|Kepribadian|Kesuksesan|Kunci|Management|Menghadapi|Padahal|Pelatihan|Qurrata|Seseorang|Tujuannya|Umum|Diding Supendi|Emotional Intelligence|Mahkamah Konstitusi|Seimbangkan Otak|Universitas Indonesia|Lembaga Konsultasi Psikologi|Menurut Iswatul Khoiriyah|Icon Work Human Resources|
Ringkasan Artikel Ini
Orang, kata dia, dapat mengusahakan kebahagiaan dari dalam dirinya sendiri dan bisa mengubah sesuatu yang buruk menjadi sesuatu yang positif dan bermanfaat.Menurut Diding, melatih kecerdasan emosi dapat dilakukan melalui beberapa metode, salah satunya dengan pernapasan. Menurut Iswatul Khoiriyah dari Icon Work Human Resources and Management Consultant, berbeda dengan kecerdasan intelektual yang dibentuk sejak lahir, kecerdasan emosi banyak dibentuk saat tumbuh dewasa-kecuali faktor temperamen, yang dibentuk sejak lahir.Seseorang yang merasa memiliki kecerdasan emosi rendah bisa melatihnya secara mandiri. Kecerdasan emosi dapat dirangsang melalui beberapa pelatihan, seperti pelatihan kompetensi diri dan soft skill.Seseorang memiliki kemampuan emosi jika mumpuni dalam hal kepemimpinan, negosiasi, dan komunikasi.

Jumlah kata di Artikel : 495
Jumlah kata di Summary : 106
Ratio : 0,214

*Ringkasan berita ini dibuat otomatis dengan bantuan mesin. Saran atau masukan dibutuhkan untuk keperluan pengembangan perangkat ini dan dapat dialamatkan ke tech at mediatrac net.
Pendapat Anda
Pendapat anda mengenai ringkasan artikel ini : Baik Buruk

Tidak ada komentar:

DAFTAR BLOG SAYA

  • Dialog Murid Dengan Sang Sufi - Seorang Guru Sufi ditanya tentang 2 keadaan manusia: 1. Manusia rajin sekali ibadahnya, namun sombong, angkuh dan selalu merasa suci dan suka mencaci maki....
    7 tahun yang lalu
  • -
    7 tahun yang lalu
  • HUKUM KARMA - Rabu, 06-01-10 | 22:17 | 735 View Gurita Cikeas, Begitu Saja Repot Oleh: M Dahlan Abubakar, Wartawan Senior Sulsel Setelah membaca Membongkar Gurita Cikeas...
    16 tahun yang lalu

Untuk seluruh kelas X Reguler,SMAN 3 Sengkang. Apa yang menjadi hambatan dalam mengikuti pelajaran ekonomi .

APAKAH BLOG INI BERMANFAAT BAGI ANDA,UTAMANYA DALAM PEMBELAJARAN EKONOMI?

Model pembelajaran yang diinginkan dalam mengukuti pelajaran ekonomi.